menulis atau membaca terlebih dhulu?

Rabu, 05 November 2014
Membaca atau menulis mana yang lebih dahulu?
Oleh : St.Huzaimah

Bukannya tidak bisa namun memulainyalah yang sulit, niat memulai sudah ada namun sulit untuk direalisasikan. Seperti yang saya alami, memulai untuk menulis ternyata tidak mudah. Ide di otak sudah ada namun sulit untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan. Seakan tercekat dalam pikiran saja, sulit dibahasakan, mungkin karena kurangnya “perbendaharaan kata”. Selain itu karena, jujur saya jarang menulis bahkan sepertinya tidak pernah. Jadi, ceritanya ini adalah pengalaman pertama saya dalam menulis seperti ini. Itupun karena alasan tugas kuliah yang memaksa saya menulis. Bermanfaat sekali, mungkin kalau bapak dosen tidak memberikan tugas ini saya tidak akan pernah memulai untuk menulis. Mengutip kata-kata dari Napoleon Bonaparte bahwa “Pena lebih tajam dari seribu pedang” itu salah satu kata-kata motivasi saya dalam menulis.

Setelah  membaca salah satu  tulisan bapak hernowo dalam bukunya yaitu Vitamin T. Salah satu sub bab yang menginspirasi tulisan saya ini yaitu “membaca-menulis atau menulis-membaca dari mana kita mesti memulai?”. Dalam bahasan itu bapak hernowo menulis aktivitas manakah yang perlu dilakukan terlebih dahulu, membaca atau menuliskan?. kedua aktivitas tersebut harus sama-sama di jalankan, namun permasalahannya aktivitas yang manakah yang harus dilaksanakan terlebih dahulu? Mungkin setiap individu berbeda-beda, tidak ada keharusan aktivitas manakah yang harus dimulai terlebih dahulu. Aktivitas yang manakah yang anda rasa menyenangkan. Namun aktivitas membaca-menulis tersebut dilaksanakan secara beriringan. Dan mengembalikan budaya baca-tulis dalam diri seseorang.
            Saya dapat menentukan bahwa sebaiknya membaca terlebih dahulu dengan alasan membaca itu bagaikan memasukkan seseuatu ke dalam diri, sementara menulis itu bagaikan memasukkan sesuatu ke dalam diri. Memasukkan kemungkinan besar lebih mudah dari pada mengeluarkan-terutama jika ini dikontekskan dengan aktivitas baca-tulis. Atau, dalam pandangan yang lain, menulis bisa jadi perlu dicoba terlebih dahulu lantaran akan tidak ada gunanya membaca tanpa ada kelanjutan untuk menuliskan apa-apa yang dibaca. Sehingga lewat pandangan seperti ini, ada kemungkinan minat baca orang tersebut akan tiba-tiba terbangkitkan… (hernowo dalam vitamin T)

            Saya pribadi menulis terlebih dahulu sangat sulit tanpa membaca terlebih dahulu. Bagaimana bisa aku menulis tanpa mempunyai pengalaman membaca yang rutin. Allah SWT dalam firmannya  yang pertama memerintahkan umat manusia untuk membaca “ Iqra’ ” yang artinya bacalah. Jadi atas dasar itu, saya lebih baik membaca terlebih dahulu sebelum menulis. Selain dasar itu, membaca juga lebih menyenangkan bagi saya. Setelah membaca mungkin kita langsung mengambil manfaat dari bacaan tersebut dengan menuangkannya dalam bentuk tuliasan, dengan menggunakan istilah yang digunakan oleh bapak Hernowo yaitu “Mengikat Makna”.
            Namun, menulis terlebih dahulu menjadi lebih mudah menurut invidu yang lain, seorang invidu yang terbiasa menuliskan pikirannya seperti menulis pengalaman pribadinya atau diary. Mungkin menulis akan menjadi lebih mudah baginya. Mencoba menuliskan hal-hal yang anda pikirkan begitulah yang disebutkan bapak Hernowo dalam bukunya. Menuliskan pikiran yang ada dalam otak kita justru harus memiliki kosa kata yang kaya bahasa. Kata yang pas untuk menggambarkan perasaan anda sendiri kadang tidak mudah.
            Membaca banyak buku semakin banyak referensi dan pengetahuan yang didapat, serta menambah perbendaharaan kata, mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran. Terkadang kita membutuhkan banyak kosakata untuk menggambarkan perasaan dan pengalaman kita. Tidak masalah apapun yang ditulis dan seberapa bagus menulis. Menuliskan apapun yang ada dipikiran kita, tanpa memikirkan standar penulisan yang bagus.
             Dengan menulis kita bisa mengungkapkan jati diri kita sendiri dan merasakan banyak manfaat dari aktivitas baca-tulis. Menulis juga tidak bisa dijauhkan dari aktivitas membaca pula, untuk menjadi menulis handal kita juga perlu aktivitas membaca yang rutin. Dan menuliskan apa saja yang kita hasilkan dari membaca. Karena apapun yang kita ketahui sesungguhnya perlu di tulis istilah pak hernowo “mengikat makna”. Kita bisa membagikan pengalaman serta pengetahuan kita kepada orang lain lewat tulisan. Dengan menulis kita juga bisa “Mengubah Lingkungan”, dalam artian kita dapat menulis tentang realitas lingkungan dan bagaimana seharusnya lingkungan sekitar. Menuliskan opini kita dalam tulisan yang kemudian dibaca oleh masyarakat luas. Beropini tentang pemerintahan, masyarakat, lingkungan alam sekitar, pilitik, dan lain sebagainya. Seperti yang saya sebutkan di atas bahwa “Pena lebih tajam dari seribu pedang”. Maksud disni pena akan lebih tajam dari seribu pedang jika pena tersebut di gunakan untuk menulis, tentunya tulisan yang intelektual tidak asal menulis.

Seperti yang ada dalam buku marketing yourself yang merumuskan konsep membangun citra diri dengan nama “segitiga PDB”. PDB singkatan dari “positioning”,”differentiation”, dan “brand” konsep tersebut menganjurkan agar seseorang memposisikan dirinya di tengah masyarakatnya. Memposisikan diri berarti mengenali diri kemudian meletakkan diri dalam konteks yang diinginkannya secara tepat. Setelah berhasil memposisikan diri, seseorang perlu terus konsisten dalam memposisikan diri, dan dilakukan secara berkelanjutan. Artinya secara tiba-tiba maka keunikan diri atau diferensiasi diri akan mencuat hebat. Setelah seseorang dapat menjaga “positioning” dan “differentiation” tersebut maka secara otomatis orang tersebut akan memiliki perbedaan dengan yang lain. Dan memiliki semacan citra dan merek atau “Brand”.
Dengan menulis kita akan menjadi terkenal dan dikenal. Menulis juga dapat menjadi kredit point dalam pengembangan diri. Membentuk pencitraan diri seperti yang telah disebutkan dalam konsep PDB, bahwa menulis akan menciptakan “Brand” bagi orang itu. Dan tentunya jika “Brand” kita kuat kita akan terkenal dan dikenal seperti yang saya sebutkan diatas. Dengan menulis juga menumbuhkan eksistensi diri kita sendiri. Siapakah diri kita akan diketahui dari tulisan kita sendiri, karena sebuah tulisan juga jelas menggabarkan penulisnya. Karakter yang dibawa dan batin penulis terpadu dalam tulisannya.
Sangat bangga sekali tulisan atau opini kita bisa di muat di media, menjadi konsumsi media dan dibaca oleh seluruh masyarakat, kita dikenal karena tulisan kita. Atau tulisan kita yang dibukukan menjadi bahan bacaan bagi banyak orang, menjadi penulis handal. Heem,, namun dalam hal ini bukan hanya menjadi penulis handal saja melainkan bagaimana efek baca tulis tersebut dapat menjadi kebiasaan bagi masyarakat. Maka dengan sendirinya akan melahirkan banyak penulis handal dan berkualitas.

Sekali lagi, tidak ada keharusan aktivitas manakah yang akan kita laksanakan terlebih dahulu, membaca atau menulis. Yang terpenting lakukanlah yang mana saja yang kalian anggap menyenangkan. Karena setiap individu itu berbeda. Dan saya ingatkan lagi bahwa kita dapat membangun citra diri melalui menulis, dan menciptakan eksistensi diri kita dalam masyarakat, dikenal karena karya dan tulisan-tulisan kita. So, mulailah mnulis apapun yang ada di pikiran kita. Dan cobalah menuliskan apa yang kita peroleh dari membaca. Cobalah memulai, kareka sebenarnya siapapun bisa menulis, hanya memulainya yang terasa sulit. 
Read more ...