Membaca atau menulis mana yang lebih dahulu?
Oleh
: St.Huzaimah
Bukannya
tidak bisa namun memulainyalah yang sulit, niat memulai sudah ada namun sulit
untuk direalisasikan. Seperti yang saya alami, memulai untuk menulis ternyata
tidak mudah. Ide di otak sudah ada namun sulit untuk menuangkannya dalam sebuah
tulisan. Seakan tercekat dalam pikiran saja, sulit dibahasakan, mungkin karena
kurangnya “perbendaharaan kata”. Selain itu karena, jujur saya jarang menulis
bahkan sepertinya tidak pernah. Jadi, ceritanya ini adalah pengalaman pertama
saya dalam menulis seperti ini. Itupun karena alasan tugas kuliah yang memaksa
saya menulis. Bermanfaat sekali, mungkin kalau bapak dosen tidak memberikan
tugas ini saya tidak akan pernah memulai untuk menulis. Mengutip kata-kata dari
Napoleon Bonaparte bahwa “Pena lebih
tajam dari seribu pedang” itu salah satu kata-kata motivasi saya dalam
menulis.
Setelah membaca salah satu tulisan bapak hernowo dalam bukunya yaitu Vitamin T. Salah satu sub bab yang menginspirasi
tulisan saya ini yaitu “membaca-menulis atau menulis-membaca dari mana kita
mesti memulai?”. Dalam bahasan itu bapak hernowo menulis aktivitas manakah yang
perlu dilakukan terlebih dahulu, membaca atau menuliskan?. kedua aktivitas
tersebut harus sama-sama di jalankan, namun permasalahannya aktivitas yang
manakah yang harus dilaksanakan terlebih dahulu? Mungkin setiap individu
berbeda-beda, tidak ada keharusan aktivitas manakah yang harus dimulai terlebih
dahulu. Aktivitas yang manakah yang anda rasa menyenangkan. Namun aktivitas
membaca-menulis tersebut dilaksanakan secara beriringan. Dan mengembalikan
budaya baca-tulis dalam diri seseorang.
Saya
dapat menentukan bahwa sebaiknya membaca terlebih dahulu dengan alasan membaca
itu bagaikan memasukkan seseuatu ke dalam diri, sementara menulis itu bagaikan
memasukkan sesuatu ke dalam diri. Memasukkan kemungkinan besar lebih mudah dari
pada mengeluarkan-terutama jika ini dikontekskan dengan aktivitas baca-tulis.
Atau, dalam pandangan yang lain, menulis bisa jadi perlu dicoba terlebih dahulu
lantaran akan tidak ada gunanya membaca tanpa ada kelanjutan untuk menuliskan
apa-apa yang dibaca. Sehingga lewat pandangan seperti ini, ada kemungkinan
minat baca orang tersebut akan tiba-tiba terbangkitkan… (hernowo dalam
vitamin T)
Saya
pribadi menulis terlebih dahulu sangat sulit tanpa membaca terlebih dahulu. Bagaimana
bisa aku menulis tanpa mempunyai pengalaman membaca yang rutin. Allah SWT dalam
firmannya yang pertama memerintahkan
umat manusia untuk membaca “ Iqra’ ”
yang artinya bacalah. Jadi atas dasar
itu, saya lebih baik membaca terlebih dahulu sebelum menulis. Selain dasar itu,
membaca juga lebih menyenangkan bagi saya. Setelah membaca mungkin kita
langsung mengambil manfaat dari bacaan tersebut dengan menuangkannya dalam
bentuk tuliasan, dengan menggunakan istilah yang digunakan oleh bapak Hernowo
yaitu “Mengikat Makna”.
Namun,
menulis terlebih dahulu menjadi lebih mudah menurut invidu yang lain, seorang
invidu yang terbiasa menuliskan pikirannya seperti menulis pengalaman
pribadinya atau diary. Mungkin menulis
akan menjadi lebih mudah baginya. Mencoba menuliskan hal-hal yang anda pikirkan
begitulah yang disebutkan bapak Hernowo dalam bukunya. Menuliskan pikiran yang
ada dalam otak kita justru harus memiliki kosa kata yang kaya bahasa. Kata yang
pas untuk menggambarkan perasaan anda sendiri kadang tidak mudah.
Membaca banyak buku semakin banyak
referensi dan pengetahuan yang didapat, serta menambah perbendaharaan kata,
mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran. Terkadang kita membutuhkan banyak
kosakata untuk menggambarkan perasaan dan pengalaman kita. Tidak masalah apapun
yang ditulis dan seberapa bagus menulis. Menuliskan apapun yang ada dipikiran
kita, tanpa memikirkan standar penulisan yang bagus.
Dengan menulis kita bisa mengungkapkan jati
diri kita sendiri dan merasakan banyak manfaat dari aktivitas baca-tulis.
Menulis juga tidak bisa dijauhkan dari aktivitas membaca pula, untuk menjadi
menulis handal kita juga perlu aktivitas membaca yang rutin. Dan menuliskan apa
saja yang kita hasilkan dari membaca. Karena apapun yang kita ketahui
sesungguhnya perlu di tulis istilah pak hernowo “mengikat makna”. Kita bisa
membagikan pengalaman serta pengetahuan kita kepada orang lain lewat tulisan.
Dengan menulis kita juga bisa “Mengubah Lingkungan”, dalam artian kita dapat
menulis tentang realitas lingkungan dan bagaimana seharusnya lingkungan
sekitar. Menuliskan opini kita dalam tulisan yang kemudian dibaca oleh
masyarakat luas. Beropini tentang pemerintahan, masyarakat, lingkungan alam
sekitar, pilitik, dan lain sebagainya. Seperti yang saya sebutkan di atas bahwa
“Pena lebih tajam dari seribu pedang”. Maksud
disni pena akan lebih tajam dari seribu pedang jika pena tersebut di gunakan
untuk menulis, tentunya tulisan yang intelektual tidak asal menulis.
Seperti
yang ada dalam buku marketing yourself yang merumuskan konsep membangun citra
diri dengan nama “segitiga PDB”. PDB
singkatan dari “positioning”,”differentiation”, dan “brand” konsep tersebut
menganjurkan agar seseorang memposisikan dirinya di tengah masyarakatnya.
Memposisikan diri berarti mengenali diri kemudian meletakkan diri dalam konteks
yang diinginkannya secara tepat. Setelah berhasil memposisikan diri, seseorang
perlu terus konsisten dalam memposisikan diri, dan dilakukan secara
berkelanjutan. Artinya secara tiba-tiba maka keunikan diri atau diferensiasi
diri akan mencuat hebat. Setelah seseorang dapat menjaga “positioning” dan
“differentiation” tersebut maka secara otomatis orang tersebut akan memiliki
perbedaan dengan yang lain. Dan memiliki semacan citra dan merek atau “Brand”.
Dengan
menulis kita akan menjadi terkenal dan dikenal. Menulis juga dapat menjadi
kredit point dalam pengembangan diri. Membentuk pencitraan diri seperti yang
telah disebutkan dalam konsep PDB, bahwa menulis akan menciptakan “Brand” bagi
orang itu. Dan tentunya jika “Brand” kita kuat kita akan terkenal dan dikenal
seperti yang saya sebutkan diatas. Dengan menulis juga menumbuhkan eksistensi
diri kita sendiri. Siapakah diri kita akan diketahui dari tulisan kita sendiri,
karena sebuah tulisan juga jelas menggabarkan penulisnya. Karakter yang dibawa
dan batin penulis terpadu dalam tulisannya.
Sangat
bangga sekali tulisan atau opini kita bisa di muat di media, menjadi konsumsi
media dan dibaca oleh seluruh masyarakat, kita dikenal karena tulisan kita.
Atau tulisan kita yang dibukukan menjadi bahan bacaan bagi banyak orang,
menjadi penulis handal. Heem,, namun dalam hal ini bukan hanya menjadi penulis
handal saja melainkan bagaimana efek baca tulis tersebut dapat menjadi
kebiasaan bagi masyarakat. Maka dengan sendirinya akan melahirkan banyak
penulis handal dan berkualitas.
Sekali
lagi, tidak ada keharusan aktivitas manakah yang akan kita laksanakan terlebih
dahulu, membaca atau menulis. Yang terpenting lakukanlah yang mana saja yang
kalian anggap menyenangkan. Karena setiap individu itu berbeda. Dan saya
ingatkan lagi bahwa kita dapat membangun citra diri melalui menulis, dan
menciptakan eksistensi diri kita dalam masyarakat, dikenal karena karya dan
tulisan-tulisan kita. So, mulailah mnulis apapun yang ada di pikiran kita. Dan
cobalah menuliskan apa yang kita peroleh dari membaca. Cobalah memulai, kareka
sebenarnya siapapun bisa menulis, hanya memulainya yang terasa sulit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar